Glimpse


notes-along-the-journey:

I wake with the light of the dawn whispering
With joy in my heart and with praise on my lips
In stillness and twilight I stand before You
Bowing, prostrating I call Allahu

My eyes see Your beauty in the dawn’s golden hues
My ears hear the thunder as it glorifies You
The rhythm of my heart beats the sound of Your name
My breaths rise and fall with the tide of Your praise

My soul knew and loved You before I was born
And without Your mercy is lost and forlorn
Wherever I may wander down the pathways of life
My cry to You, oh my Lord, is ‘guide me to light’

Through all fear and helplessness, to You do I turn
For Your breath of healing and peace do I yearn
For all that I have, my Lord, all that I am
Is from You, is for You and to You will return

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Hayyu, Ya Qayyum

TALIB AL-HABIB, “LIGHT OF THE DAWN”

This is a really nice nasheed!

Calm and serene.


Via notes along the journey...


Selamat Hari Raya Aidiladha buat semua. Ampun maaf zahir dan batin jua. Tahniah buat semua lembu, kambing, unta, kibas yang terpilih dan layak disembelih tahun ini. You’ve served your purpose. Manusia sepertiku ini sahaja yang belum sempurna dalam memenuhi tujuan kewujudannya di muka bumi. Insaf, insaf. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar ya Rabbi.


[Flash 9 is required to listen to audio.]

Muhasabah Cinta oleh Edcoustic

Tuhan, kuatkan aku

lindungi aku dari putus asa…


It’s funny because when you do something right, no one remembers. But when you do something wrong, no one forgets.

– (via idareyoutoclickthis) Via in the midst of thinking
[Flash 9 is required to listen to audio.]

Aku ingin mencintai-Mu by Edcoustic

Tuhan betapa aku malu

Atas semua yang Kau beri

Padahal diriku terlalu sering membuatMU kecewa

Entah mungkin karna ku terlena

Sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali

Agar aku kembali

Dalam fitrahku sebagai manusia

Untuk menghambakanMU

Betapa tak ada apa-apanya aku dihadapanMU

Reff:

Aku ingin mencintaiMU setulusnya,

Sebenar-benar aku cinta

Dalam do`a

Dalam ucapan

Dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekatiMU selamanya
Sehina apapun diriku
Kuberharap untuk bertemu denganMU ya Rabbi


Penulis adalah pemikir, bukan sekadar pembaca dan meluahkan semula sesuatu ke dalam bentuk yang lain.

– Rebecca Ilham

Fantasia Itu Bukan Eksistensial Sial

Penat. Aku tidak tahu sama ada aku mengejar dunia atau dunia mengerjakan aku. Tidurku lewat, bangunku awal pagi. Mujur ini hari pertama subjek Emergency. Aku hanya perlu menatap wajah cikgu sambil menganggguk-anggukan kepala. Dan malah, aku tidak lihat patung manusia separuh badan itu berada dalam keadaan mencemaskan sehingga memerlukan bantuan kecemasan melainkan akulah sebenarnya yang sedang cemas. Kecemasan spiritual. Nah, cikgu memberi senarai topik yang perlu direvisi agar esok molek membutirkan jawapan-jawapan bernas yang bisa buat cikgu terkekek ketawa, ‘hek, hek, hek’. Maaf, ketawanya memang aneh.

Penat. Soreku tidak ada istirehat. Ada urusan lengai-lengai yang harus kusudahi. 144 jam, 4 minit, 55 saat lagi, dan urusan itu akan selesai. Setakat ini, barangkali sudah separuh jalan merentas entah laut atau benua apa. Atiq teman sebilik menemani. Dan sesudah itu, aku pula memenuhi impiana fantasianya untuk bergambar bersama daun-daun maple kuning kunyit, coklat tanah dan merah semi itu buat kali terakhirnya. Dan klik! Ewah, berguling-guling aku dan dia mencitra setiap yang dinamik menjadi statik. Dia sebagai model memposisikan dirinya pada sudut-sudut alam terindah dan aku jurugambar amatur ini bising memastikan posisinya teratur tidak sumbang. Yah! Dan klik!

Penat. Terima kasih aku kepada Atiq. Sekurang-kurang dengan melihat alam, fikiranku jadi tenang dan mindaku tidak berkecamuk melalak menabrak ruang-ruang lelah dan payah yang tidak dieksposisi. Ya, aku capek. Pulang ke kamar, kubersihkan diri dan mataku tidak tertahan lagi. Kepala jadi berat. Miung, aku tidak boleh memproses fikir seketika. Fokusku menjadi jelas pada tilam dan bantal sahaja. Yang lain; komputer riba, nasi, dan buku-buku kelihatan bokeh di hujung perimeter penglihatanku. Bahana tidak kecukupan mendapat lelap malam sebelumnya. Lena. Sekejap pun jadilah.

Penat. Untuk seketika, dunia kutinggalkan. Entah setelah berapa lama, tahu-tahu tanganku terasa menyentuh bulu-bulu halus milik sepasang telinga seekor marsupial. Haiwan itu melimpaskan sepenuh pandangannya ke arahku. Merenung aku lama dan menghidu-hidu bucu tudungku. Lucu. Aku kelihatan sangat kecil berada di sebelahnya. Tiba-tiba, sebongkah ketawa pecah menerjah gegendang telinga. Anehnya, ketawa mengejek itu datangnya dari pemilik sepasang mata hitam redup bening dengan alis terukir lentik indah di atas. Pandangannya jauh dan teduh. Tenang. Aku membalas dengan senyuman sambil membisikkan sesuatu ke telinga haiwan di sebelahku. Kejar! Dan seterusnya, adalah pemandangan paling seni pernah kulihat. Aku ketawa mengekek memerhatikan pemilik sepasang mata teduh itu bertukar kaget dilalah seekor ibu kangaroo. Ha ha. Rasakan!

Tak sangka tak nyana, ia hanyalah sebuah mimpi! Tipuan halus yang menghiasi alam tidurku. Realitinya, aku sedang benar dikerjakan dunia, bukan menikmatinya. Ya Tuhan, banyak sungguh kerja menanti setelah bangunku dari lena. Kini. Yosh!



Dedicated to the best-est friend I’ve ever had. Thank you for being my loyal friend this whole three boring weeks. Ain’t no songs, ain’t no poems, nor any precious gifts can compare to your being in my life. Thank you for always being there when I need to hold on and when I need to rest my head on your shoulder the most.


Terima kasih kerana mewarna-warnikan hidupku. ^^


[Flash 9 is required to listen to audio.]

Lewat ini ku rasakan
Kasih kian ku dambakan
Resah hati yang ku pendam
Pada takdir dan harapan

Detik waktu dan suratan
Siapa tahu ketentuan
Ku mencari cahayanya
Dalam bayang kegelapan

Nur kasih
Nur kasih

Nasib hidup dan pilihan
Lain hukum setiap insan
Mengharapkan perjalanan
Dalam maya kesamaran


Lost in thoughts

Sekalipun cinta telah ku huraikan,

dan kujelaskan panjang lebar,

namun jika cinta kudatangi,

aku jadi malu pada keteranganku sendiri.

Meskipun lidahku telah mampu menghuraikan,

namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang,

sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.

Kata-kata pecah berkeping-keping,

begitu sampai kepada cinta.

Dalam menghuraikan cinta,

akal terbaring tak berdaya,

bagaikan keldai terbaring dalam lumpur,

cinta sendirilah yang

menerangkan cinta dan percintaan.

Beautiful poem by Jalaludin Rumi, read by Anna Althafunnisa in KCB.



110
To Tumblr, Love Metalab