Saat itu, pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Khalid bin Walid berperang melawan pasukan Romawi yang berada di bawah pimpinan Hercules. Dengan sifat kesatria dan keberanian yang dimilikinya, Khaulah pun ikut berperang dari front belakang dengan tujuan untuk membebaskan saudara lelakinya, Dharar, dari tahanan.
Diriwayatkanbahwa Dharar bin al-Azwar telah ditahan oleh pasukan musuh di wilayah Ajnadin, maka Khalid bin Walid pun pergi bersama sekelompok pasukannya
untuk menyelamatkan Dharar.
Di tengah perjalanan, Khalid bertemu dengan seorang anggota pasukan berkuda yang membawa tombak. Tidak ada yang terlihat dari anggota tubuhnya kecuali matanya saja. Dia berkuda dengan cepat seorang diri tanpa memedulikan apa yang terjadi di belakangnya.
Ketika Khalid melihat anggota pasukan tersebut, dia berkata,”Sungguh hebat, siapa anggota pasukan berkuda itu? Demi Allah, sungguh dia adalah seorang anggota pasukan berkuda”. Khalid dan anggota pasukannya terus membuntuti orang tersebut hingga sampai batas pertahanan pasukan Romawi. Sesampainya di sana, sosok berkuda nan misterius langsung menyerang mereka dan berusaha menerobos barisan mereka. Dia berteriak hingga teriakannya itu memporak-porandakan pawai yang sedang mereka gelar. Hanya dalam satu kali putaran, dia sudah keluar dalam keadaan tombaknya sudah berlumuran darah. Dia telah berhasil membunuh dan merobohkan sejumlah pasukan.
Setelah itu, dia pun kembali mempertaruhkan nyawanya dengan menerobos kembali
barisan pasukan lawan seorang diri. Dia telah membuat kaum Muslimin cemas dan penasaran untuk mengetahui siapa dirinya. Kebanyakan menyangka dia adalah Khalid. Oleh karena itum ketika Khalid datang, Rafi’ bin ’Umairah pun berkata, ”Siapa anggota pasukan berkuda yang maju di hadapanmu itu?, ”Sungguh , aku tidak lebih tau dari pada kalian, bahkan lebih heran terhadap perilaku dan sikapnya itu.”
Ketika pasukan Muslimin sedang berbincang-bincang, tiba-tiba anggota pasukan
berkuda itu datang, Dia bak sang bintang yang bersinar. Kudanya berjalan mengikuti jejaknya. Ketika ada yang berusaha mendekatinya, dia pun berusaha menghindar darinya, lalu ia menempelkan tombaknya ke dada orang yang ingin mendekatinya. Hal itu terus dilakukan hingga dia sampai di barisan kaum Muslimin.
Kaum Muslimin pun langsung mengelilinginya. Mereka meminta kepadanya untuk memberitahukan namanya dan membuka penutup kepalanya, tetapi orang itu tak mau menjawabnya. Setelah Khalid mengulangi permintaannya berkali-kali, akhirnya orang itu mau menjawab perkataan Khalid menkipun ia menjawabnya dalam keadaan
masih memakai penutup kepala.
Dia berkata, :Wahai pimpinan kami, sesungguhnya alasan mengapa aku tidak mau memperlihatkan diriku kepadamu adalah karena aku malu kepadamu, karena kamu adalah seorang pimpinan yang agung, sementara aku hanyalah seorang wanita lemah yang harus tertutup. Sesungguhnya aku melakukan hal ini karena hatiku terbakar dan merasa sakit hati.” Khalid berkata, ”Lalu siapa engkau sebenarnya?” Orang itu menjawab ”Aku adalah Khaulah binti al-Azwar.
Tadinya aku sedang bersama wanita-wanita dari kaumku, tetapi tiba-tiba seorang datang memberitahuku bahwa saudara lelakiku telah ditahan oleh pasukan musuh. Maka, aku pun segera menaiki kuda, lalu melakukan apa yang telah engkau lihat.”
Mendengar itu, Khalid dan para tentaranya berteriak heroik, lalu mereka pun melakukan penyerangan. Khaulah juga ikut melakukan penyerangan bersama mereka. Ia pun terus ikut berjihad hingga saudara laki-lakinya dapat diselamatkan.
***
Itulah sosok wanita yang penuh dengan sikap kesatria namun tawadhu’. Di saat
kaum wanita ”menggantungkan” sikap pemberani kepada kaum pria, Khaulah
pun memecahkannya. Bahkan dengan model ”Single Fighter”, Khaulah pun
memorak-porandakan pasukan Romawi.
***
Dalam peperangan lain di wilayah Shahura, Khaulah ditahan oleh pasukan musuh bersama para wanita lainnya. Dia telah berhasil membangkitkan semangat juang para wanita itu dan mengobarkan api yang panas dalam hati mereka, meskipun pada saat itu mereka sama sekali tidak memiliki satu senjata.
Dia berkata, ”Ambillah tiang-tiang tenda dan tali-talinya, lau marilah kita serang orang-orang yang tercela itu. Semoga Allah swt akan menolong kita dalam menghadapi mereka”. Afra’binti Affar brkata, ”Demi Allah, ajakanmu itu bukanlah sesuatu yang biasa kami lakukan.”
Maka setiap wanita pun mengambil satu tiang tenda, lau mereka berteriak satu
kali. Khaulah juga mengangkat satu tiang di atas pundaknya sendiri, lalu wanita-wanita lainnya pun mengikuti dari belakang. Khaulah berkata kepada mereka, ”Sebagian di antara kalian hendaklah tidak terpisah dengan yang lain. Jadilah kalian seperti satu lingkaran dan janganlah terpisah-pisah. Dengan cara seperti itu, kalian akan dapat mematahkan tombak-tombak lawan dan memecahkan pedang-pedang mereka.”
Khaulah pun mulai menyerang, demikian juga wanita-wanita yang lainnya. Mereka
berperang layaknya orang-orang yang tidak takut mati, hingga akhirnya mereka pun menyelamatkan diri mereka dari cengkeraman tanga-tangan pasukan Romawi.
Ketika berhasil keluar, Khaulah berkata,
”Kami adalah wanita-wanita seperti bayangan keledai. Kami telah menghantam pasukan lawan. Dan tidak ada seorang pun yang mengingkari hal itu. Karena ketika berada dalam peperangan, kami adalah seperti api yang menyala-nyala. Pada hari ini, kalian akan merasakan siksaan yang terbesar.”