About

Orang kecil.
Sederhana, InshaAllah.
Jiwanya kadang besar.
Fikirnya kadang halus.
Sampe lupa yang jelas.
Terus...
mohon sebarang dua,
nasihat rohani,
kira nanti terjumpa
orang kecil ini,
di mana-mana.

=)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (6:32)

People I Follow

  • LeenaBaleena's Page
  • ruh x soul
  • ♥ CoretCoret SueSue♥
  • i LOVE my LIFE
  • arghlblargh!
  • The Truth Behind It. ♡
  • محمد حافظ
  • العلم قبل القول والعمل
  • Another side of MuNsYi ™
  • the escapism.
  • wafeya
  • GivesMeHope
  • Clients From Hell
  • Tumblr Staff
  • what i make out
  • An abiding faith
  • Welcome to Sweet Home Style
  • Witch Doctor
  • seperti Sang Pelangi selepas gerimis
  • Jay Martin
  • chasing rainbows.
  • walk on
  • Art of life
  • Akma
  • from the word in my world..
  • La ilaha ilallah ♥
  • Zack Amirullah
  • weeyarh
  • Say hello, marmellow
  • wazakkir,
  • Everything Harry Potter
  • i hear your voice playin' through my head
  • Sweet pea
  • summat diff
  • Al-Mahbubaah
  • ocean of reverie
  • apples and oranges
  • nourelalmaas
  • getpeace
  • ﻧﺴﻴﺒﺔ
  • Qefy's
  • Mencari Cinta Ilahi
  • Acrylonitrile butadiene styrene.
  • snap
  • Kokeshiii
  • wonderland
  • Pengingat Hati
  • IT IS HERE
  • craps.
  • mfeoleo@tumblr
  • Haura 'Amra' Zhafira (Priscilla Auldrine)
  • My Name Is Goddess
  • My Lens
  • my heart sent to You
  • whisper please
  • Prophet Muhammed
  • GLIMPSE OF BEAUTY
  • Story for another day...
  • Palestina
  • JustbeingMe.
  • Ryfasha
  • c'est La Vie
  • berbuat hari ini!
  • journey back home...
  • sweEt soul
  • kanzenki
  • Fuck Yeah Mesut Özil!
  • That should be me...
  • cucur bawang
  • Fingularity
  • The time has come for a revolution.
  • pensil kayu
  • Kecek Kokse Kokdam
  • being consistent!~ =)
  • Bawseh.
  • life is too short
  • its my choochootrain
  • BEAUTY IN FAITH
  • The surpassed
  • The Ramadan Memoirs of a Striving Muslimah
  • ~Annur Munirah~
  • LifeSizePortrait
  • ++ photoworld of expressions ++
  • comrades
  • Rise to the Occasion
  • Islam
  • Light Traces
  • Qiffah
  • pencarian
  • ~Golly~
  • Puteri Sumarni
  • ...MEMOIR...
  • Nazim Photography - Great Artwork for Your Wedding
  • ~sunshine in a house~
  • WATERCOLOUR
Cheshire - Created by Alter Imaging
1 year ago | 772 notes

It’s those moments when your forehead touches the ground when you’re praying, or when you walk outside all covered up in blazing weather or when you’re reading the Quran and there’s tears in your eyes. Those moments when you know that you don’t need anything or anyone but Allah. Those are the moments I live for.

Via JustbeingMe.
1 year ago | 5 notes

Menjadi baik.

fingularity:

Menjadi Baik [Link]

Apakah definisi ‘baik’?

Mungkin kalau kita lihat kamus dewan bahasa dan pustaka, pasti wujud maknanya yang tersendiri. Namun, untuk saya, ‘baik’ itu adalah apabila kita beriman kepada Allah SWT dengan sebenar-benar keimanan. Mengambil Islam secara menyeluruh, maka itulah dia ‘baik’.

Pakai tudung, tapi tak solat, maka itu belum dikatakan baik. Solat pergi masjid, tapi mulut masih mengutuk-mengeji orang, maka itu belum dikatakan baik. Hafal Al-Quran 30 juzu’, tapi masih sokong sistem jahiliyyah, maka itu belum dikatakan baik.

Baik, adalah apa yang Allah kata baik. Dan yang mengambil Islam secara menyeluruh, itulah dia baik. Persoalannya, bagaimana hendak menjadi ‘baik’ yang ini?

Bermula dengan membina kesedaran.

Mengapa manusia tidak mampu menggerakkan dirinya untuk menjadi ‘baik’?

Sebab tidak wujudnya kesedaran di dalam diri. Terhasilnya pergerakan ke arah kebaikan adalah apabila kita berjaya menyedarkan diri kita untuk bergerak ke arah itu. Merasakan diri ini perlu melakukan perubahan, sedar betapa hidup ini memerlukan panduan, perasan betapa hati ini punya satu kekosongan, memandang tanggungjawab dan keterikatan diri terhadap orang sekeliling, inilah yang membuatkan diri punya rasa dahaga kepada peningkatan.

Maka kesedaran ini perlu diwujudkan. Dengan memerhati dan berfikir. Mulakan dengan penciptaan diri. Apakah diri kita ini terwujud untuk bermain-main sahaja? Atau kita diwujudkan atas satu signifikan tertentu, dan hendak menuju ke satu matlamat yang tertentu?

Timbulkan kesedaran.

Kesedaran menggerakkan diri kepada perubahan.

(Click link to continue to full article)

Via Fingularity
1 year ago | 4 notes

KHAULAH AL AZWAR

khaulahshafiyah:

Saat itu, pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Khalid bin Walid berperang melawan pasukan Romawi yang berada di bawah pimpinan Hercules. Dengan sifat kesatria dan keberanian yang dimilikinya, Khaulah pun ikut berperang dari front belakang dengan tujuan untuk membebaskan saudara lelakinya, Dharar, dari tahanan.

Diriwayatkanbahwa Dharar bin al-Azwar telah ditahan oleh pasukan musuh di wilayah Ajnadin, maka Khalid bin Walid pun pergi bersama sekelompok pasukannya
untuk menyelamatkan Dharar.

Di tengah perjalanan, Khalid bertemu dengan seorang anggota pasukan berkuda yang membawa tombak. Tidak ada yang terlihat dari anggota tubuhnya kecuali matanya saja. Dia berkuda dengan cepat seorang diri tanpa memedulikan apa yang terjadi di belakangnya.

Ketika Khalid melihat anggota pasukan tersebut, dia berkata,”Sungguh hebat, siapa anggota pasukan berkuda itu? Demi Allah, sungguh dia adalah seorang anggota pasukan berkuda”. Khalid dan anggota pasukannya terus membuntuti orang tersebut hingga sampai batas pertahanan pasukan Romawi. Sesampainya di sana, sosok berkuda nan misterius langsung menyerang mereka dan berusaha menerobos barisan mereka. Dia berteriak hingga teriakannya itu memporak-porandakan pawai yang sedang mereka gelar. Hanya dalam satu kali putaran, dia sudah keluar dalam keadaan tombaknya sudah berlumuran darah. Dia telah berhasil membunuh dan merobohkan sejumlah pasukan.

Setelah itu, dia pun kembali mempertaruhkan nyawanya dengan menerobos kembali
barisan pasukan lawan seorang diri. Dia telah membuat kaum Muslimin cemas dan penasaran untuk mengetahui siapa dirinya. Kebanyakan menyangka dia adalah Khalid. Oleh karena itum ketika Khalid datang, Rafi’ bin ’Umairah pun berkata, ”Siapa anggota pasukan berkuda yang maju di hadapanmu itu?, ”Sungguh , aku tidak lebih tau dari pada kalian, bahkan lebih heran terhadap perilaku dan sikapnya itu.”
Ketika pasukan Muslimin sedang berbincang-bincang, tiba-tiba anggota pasukan
berkuda itu datang, Dia bak sang bintang yang bersinar. Kudanya berjalan mengikuti jejaknya. Ketika ada yang berusaha mendekatinya, dia pun berusaha menghindar darinya, lalu ia menempelkan tombaknya ke dada orang yang ingin mendekatinya. Hal itu terus dilakukan hingga dia sampai di barisan kaum Muslimin.

Kaum Muslimin pun langsung mengelilinginya. Mereka meminta kepadanya untuk memberitahukan namanya dan membuka penutup kepalanya, tetapi orang itu tak mau menjawabnya. Setelah Khalid mengulangi permintaannya berkali-kali, akhirnya orang itu mau menjawab perkataan Khalid menkipun ia menjawabnya dalam keadaan
masih memakai penutup kepala.

Dia berkata, :Wahai pimpinan kami, sesungguhnya alasan mengapa aku tidak mau memperlihatkan diriku kepadamu adalah karena aku malu kepadamu, karena kamu adalah seorang pimpinan yang agung, sementara aku hanyalah seorang wanita lemah yang harus tertutup. Sesungguhnya aku melakukan hal ini karena hatiku terbakar dan merasa sakit hati.” Khalid berkata, ”Lalu siapa engkau sebenarnya?” Orang itu menjawab ”Aku adalah Khaulah binti al-Azwar.


Tadinya aku sedang bersama wanita-wanita dari kaumku, tetapi tiba-tiba seorang datang memberitahuku bahwa saudara lelakiku telah ditahan oleh pasukan musuh. Maka, aku pun segera menaiki kuda, lalu melakukan apa yang telah engkau lihat.”

Mendengar itu, Khalid dan para tentaranya berteriak heroik, lalu mereka pun melakukan penyerangan. Khaulah juga ikut melakukan penyerangan bersama mereka. Ia pun terus ikut  berjihad hingga saudara laki-lakinya dapat diselamatkan.
***
Itulah sosok wanita yang penuh dengan sikap kesatria namun tawadhu’. Di saat
kaum wanita ”menggantungkan” sikap pemberani kepada kaum pria, Khaulah
pun memecahkannya. Bahkan dengan model ”Single Fighter”, Khaulah pun
memorak-porandakan pasukan Romawi.
***
Dalam peperangan lain di wilayah Shahura, Khaulah ditahan oleh pasukan musuh bersama para wanita lainnya. Dia telah berhasil membangkitkan semangat juang para wanita itu dan mengobarkan api yang panas dalam hati mereka, meskipun pada saat itu mereka sama sekali tidak memiliki satu senjata.

Dia berkata, ”Ambillah tiang-tiang tenda dan tali-talinya, lau marilah kita serang orang-orang yang tercela itu. Semoga Allah swt akan menolong kita dalam menghadapi mereka”. Afra’binti Affar brkata, ”Demi Allah, ajakanmu itu bukanlah sesuatu yang biasa kami lakukan.”

Maka setiap wanita pun mengambil satu tiang tenda, lau mereka berteriak satu
kali. Khaulah juga mengangkat satu tiang di atas pundaknya sendiri, lalu wanita-wanita lainnya pun mengikuti dari belakang. Khaulah berkata kepada mereka, ”Sebagian di antara kalian hendaklah tidak terpisah dengan yang lain. Jadilah kalian seperti satu lingkaran dan janganlah terpisah-pisah. Dengan cara seperti itu, kalian akan dapat mematahkan tombak-tombak lawan dan memecahkan pedang-pedang mereka.”

Khaulah pun mulai menyerang, demikian juga wanita-wanita yang lainnya. Mereka
berperang layaknya orang-orang yang tidak takut mati, hingga akhirnya mereka pun menyelamatkan diri mereka dari cengkeraman tanga-tangan pasukan Romawi.

Ketika berhasil keluar, Khaulah berkata,
”Kami adalah wanita-wanita seperti bayangan keledai. Kami telah menghantam pasukan lawan. Dan tidak ada seorang pun yang mengingkari hal itu. Karena ketika berada dalam peperangan, kami adalah seperti api yang menyala-nyala. Pada hari ini, kalian akan merasakan siksaan yang terbesar.”

Via Haura 'Amra' Zhafira (Priscilla Auldrine)
1 year ago | 13 notes
khaulahshafiyah:

*KETIKA MUADZIN SEORANG ASTRONOM*oleh: Dr Ing. Fahmi AmharPernahkah anda berlomba untuk memperebutkan posisi sebagai muadzin di masjid?  Muadzin mungkin bukan orang nomor satu di sebuah masjid.  Kedudukan itu barangkali lebih tepat diberikan kepada imam.  Namun Rasulullah pernah bersabda, “Andaikata umatku tahu besarnya pahala mengumandangkan adzan, barangkali setiap saat aku harus mengundinya di antara mereka”. Untuk menjadi muadzin biasanya diperlukan sejumlah syarat, antara lain:memiliki suara yang lantang tetapi indah – sehingga orang sukamendengarnya, untuk kemudian datang ke masjid; tidak dikenal sebagai orang yang fasik; dan tentu saja bersedia datang lebih awal.  Kalau orang biasa baru berangkat ke masjid setelah mendengar suara adzan, tentunya bukan dia yang akan mengumandangkan adzan.  Ini artinya, muadzin harus hafal kapan saat-saat sholat, yang setiap harinya bisa bergeser beberapa menit. Untuk syarat yang terakhir ini sekarang tergolong mudah.  Di mana-mana ada jam, dan di setiap masjid ada jadwal shalat abadi.  Kalau untuk adzan maghrib, orang dapat pula mendengar dari radio atau televisi – yang biasanya hanya mengacu pada kota tertentu dansekitarnya.  Tetapi dulu, seorang muadzin wajib mengetahui sendiri saat-saat sholat.  Karena saat-saat sholat ditentukan oleh posisi matahari, maka seorang muadzin harus sedikit banyak tahu tentang astronomi.  Bahkan karena ilmu ini juga dibutuhkan untuk mengetahui arah kiblat dan awal/akhir puasa, maka praktis seorang muadzin harus seorang astronom!  Untuk itulah, di masa lalu, semua muadzin wajib memiliki sertifikasi (ijazah) ilmu falak dasar, yakni astronomi dasar untuk persoalan jadwal sholat, puasa dan arah kiblat. Untunglah, banyak ulama Islam yang mencurahkan hidupnya untuk memudahkan pekerjaan ini.  Mereka membangun dasar-dasar ilmu falak dan lebih dari itu juga astronomi untuk navigasi di medan jihad.  Walhasil, banyak juga muadzin yang karena kemampuan astronomi ini lalu direkrut untuk jihad fi sabilillah.  Jadi di belakang predikat seorang muadzin, tidak cuma tersembunyi kemampuan mengumandangkan adzan dengan indah, tetapi juga ilmu astronomi dan pengalaman jihad.  Subhanallah. Kaum muslim telah berburu ilmu ke Barat (Mesir, Yunani) maupun ke timur (Persia, India), mengintegrasikannya, memperkuat dasar-dasarnya dan mengembangkan jauh di atas para gurunya.  Pusat penelitian astronomi Islam yang paling tua bermula di kota Maragha.  Maka dalam sejarah ilmu pengetahuan muncullah “Madzhab Maragha” atau bahkan “Revolusi Maragha” – sebuah revolusi saintifik sebelum Rennaisance. Ini berawal ketika Khalifah al-Ma’mun memerintahkan untuk mendirikan sebuah observatorium dan merekrut para astronom untuk melakukan pengumpulan data yang teliti guna mengoreksi data yang telah ada hingga saat itu.  Untuk itu para astronom meminta bantuan ahli-ahli mekanik untuk membuatkan sebuah alat pengamatan langit yang disebut astrolabs.  Hasil-hasil pengamatan langit yang lebih teliti ini menyelesaikan problem yang signifikan yang selalu timbul dalam model langit geosentris Ptolomeus.  Saat-saat tertentu, planet Mars tampak seperti bergerak mundur (retrograde motion).  Kalau saja model ini diubah menjadi heliosentris, maka gerak mundur planet Mars itu mudah sekali dipahami, yaitu tatkala bumi yang beredarmengelilingi matahari lebih cepat dari Mars, sedang “menyalip” Mars.  Tapi waktu itu, Ptolomeus yang percaya pada teori geosentris, mencobamemecahkan problema itu dengan lingkaran-lingkaran tambahan yangdisebut episiklus.  Tetapi episiklus-episiklus ini makin lama menjadi makin rumit. Maka sejumlah astronom muslim seperti Ibnu al-Haytsam dan Ibnu al-Syatir menekuni kemungkinan bahwa bumi berputar pada porosnya serta kemungkinan adanya sistem tata surya yang berpusat di matahari.  Mereka membuat model planet non Ptolomeus.  Sedang Muayyaduddin Urdi secara total menolak model Ptolomeus karena dasar empiris, tak hanya filosofis.  Ini pendapat yang luar biasa maju.  Nicolaus Copernicus baru berani mengemukakan pendapat ini di Eropa 500 tahun kemudian.  Buka Copernicus yang berjudul De Revolutionibus ternyata banyak mengadaptasi model langit dari Ibnu al-Syatir dan at-Tusi dari madzhab Maragha.  Argumentasi Copernicus tentang rotasi bumi juga senada dengan karya Ali al-Qusyji. Pada abad-21 ini, fenomena langit seputar tata surya sudah bukan teori lagi, tetapi sudah menjadi fakta keras yang tidak dapat dibantah lagi.  Manusia berbagai bangsa sudah meluncurkan ribuan pesawat ruang angkasa dan satelit yang mengorbit bumi.  Terakhir, tahun 2009 para astronom dan insinyur aeronautika Iran sudah berhasil membuat satelit dan meluncurkannya dengan roket yang dibuat sendiri tanpa pertolongan negara lain.  Semua hasil eksperimen ini terus membuktikan bahwa bumi memang berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari. Anehnya, di abad ini pula, justru ada sejumlah orang yang ghirah Islamnya tinggi kembali meragukan pendapat bahwa bumi itu berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari.  Mereka berpendapat, bumi itu diam, dan matahari, bulan dan seluruh bintang-bintang beredar mengelilingi bumi.  Mereka menganggap pendapat ini didukung Al-Qur’an (antara lain QS 35:41, dan QS 21:33). Padahal kebenaran sebuah fenomena alam yang dapat diamati atau diukur sama sekali tidak memerlukan dalil kitab suci manapun.  Rupanya para astronom seribu tahun yang lalu justru lebih jernih dalam memahami ayat Al-Qur’an sekaligus memahami fenomena alam. Dengan itulah mereka dapat menjadikan astronomi sebagai modal untuk memuliakan Islam dan kaum muslim.  Itu karena para astronom itu berangkat dari seorang muadzin!Abu ar-Raihan al-Biruni menegaskan perbedaan antara astronomi dengan astrologi, sehingga menekankan pengamatan empiris yang akurat dan eksperimen untuk membuktikan kebenaran perhitungan astronomi.  Akurasi data itu juga membuat astrofisika dimulai.Adalah Ja’far Muhammad bin Musa bin Syakir yang dari ribuan pengamatannya memastikan bahwa benda-benda langit mengalami hukum fisika yang sama seperti bumi. Sedang Ibnu al-Haytsam, sang penemu fisika optika – yang menjadi dasar pembuatan lensa untuk teropong bintang - dari pengamatannya memastikan, bahwa apa yang hingga saat itu diyakini sebagai “lapisan-lapisan langit” ternyata bukanlah sesuatu yang padat, melainkan bahkan kurang rapat dibanding udara.  Jadi kalau di Qur’an disebut “lapis langit pertama sampai ketujuh”, maka itu pasti terletak di alam ghaib yang tidak dapat diamati manusia.  Di situlah, ketika sains berakhir, dimulailah keimanan.

khaulahshafiyah:

*KETIKA MUADZIN SEORANG ASTRONOM*

oleh: Dr Ing. Fahmi Amhar

Pernahkah anda berlomba untuk memperebutkan posisi sebagai muadzin di masjid?  Muadzin mungkin bukan orang nomor satu di sebuah masjid.  Kedudukan itu barangkali lebih tepat diberikan kepada imam. 
Namun Rasulullah pernah bersabda, “Andaikata umatku tahu besarnya pahala mengumandangkan adzan, barangkali setiap saat aku harus mengundinya di antara mereka”.

Untuk menjadi muadzin biasanya diperlukan sejumlah syarat, antara lain:
memiliki suara yang lantang tetapi indah – sehingga orang suka
mendengarnya, untuk kemudian datang ke masjid;
tidak dikenal sebagai orang yang fasik;
dan tentu saja bersedia datang lebih awal. 
Kalau orang biasa baru berangkat ke masjid setelah mendengar suara adzan, tentunya bukan dia yang akan mengumandangkan adzan. 
Ini artinya, muadzin harus hafal kapan saat-saat sholat, yang setiap harinya bisa bergeser beberapa menit.

Untuk syarat yang terakhir ini sekarang tergolong mudah.  Di mana-mana ada jam, dan di setiap masjid ada jadwal shalat abadi. 

Kalau untuk adzan maghrib, orang dapat pula mendengar dari radio atau televisi – yang biasanya hanya mengacu pada kota tertentu dan
sekitarnya.  Tetapi dulu, seorang muadzin wajib mengetahui sendiri saat-saat sholat.  Karena saat-saat sholat ditentukan oleh posisi matahari, maka seorang muadzin harus sedikit banyak tahu tentang astronomi.  Bahkan karena ilmu ini juga dibutuhkan untuk mengetahui arah kiblat dan awal/akhir puasa, maka praktis seorang muadzin harus seorang astronom!  Untuk itulah, di masa lalu, semua muadzin wajib memiliki sertifikasi (ijazah) ilmu falak dasar, yakni astronomi dasar untuk persoalan jadwal sholat, puasa dan arah kiblat. Untunglah, banyak ulama Islam yang mencurahkan hidupnya untuk memudahkan pekerjaan ini.  Mereka membangun dasar-dasar ilmu falak dan lebih dari itu juga astronomi untuk navigasi di medan jihad.  Walhasil, banyak juga muadzin yang karena kemampuan astronomi ini lalu direkrut untuk jihad fi sabilillah. 

Jadi di belakang predikat seorang muadzin, tidak cuma tersembunyi kemampuan mengumandangkan adzan dengan indah, tetapi juga ilmu astronomi dan pengalaman jihad. 

Subhanallah.

Kaum muslim telah berburu ilmu ke Barat (Mesir, Yunani) maupun ke timur (Persia, India), mengintegrasikannya, memperkuat dasar-dasarnya dan mengembangkan jauh di atas para gurunya.  Pusat penelitian astronomi Islam yang paling tua bermula di kota Maragha.  Maka dalam sejarah ilmu pengetahuan muncullah “Madzhab Maragha” atau bahkan “Revolusi Maragha” – sebuah revolusi saintifik sebelum Rennaisance. Ini berawal ketika Khalifah al-Ma’mun memerintahkan untuk mendirikan sebuah observatorium dan merekrut para astronom untuk melakukan pengumpulan data yang teliti guna mengoreksi data yang telah ada hingga saat itu. 

Untuk itu para astronom meminta bantuan ahli-ahli mekanik untuk membuatkan sebuah alat pengamatan langit yang disebut astrolabs.  Hasil-hasil pengamatan langit yang lebih teliti ini menyelesaikan problem yang signifikan yang selalu timbul dalam model langit geosentris Ptolomeus. 
Saat-saat tertentu, planet Mars tampak seperti bergerak mundur (retrograde motion). 
Kalau saja model ini diubah menjadi heliosentris, maka gerak mundur planet Mars itu mudah sekali dipahami, yaitu tatkala bumi yang beredar
mengelilingi matahari lebih cepat dari Mars, sedang “menyalip” Mars.  Tapi waktu itu, Ptolomeus yang percaya pada teori geosentris, mencoba
memecahkan problema itu dengan lingkaran-lingkaran tambahan yang
disebut episiklus. 

Tetapi episiklus-episiklus ini makin lama menjadi makin rumit. Maka sejumlah astronom muslim seperti Ibnu al-Haytsam dan Ibnu al-Syatir menekuni kemungkinan bahwa bumi berputar pada porosnya serta kemungkinan adanya sistem tata surya yang berpusat di matahari.  Mereka membuat model planet non Ptolomeus. 
Sedang Muayyaduddin Urdi secara total menolak model Ptolomeus karena dasar empiris, tak hanya filosofis. 

Ini pendapat yang luar biasa maju. 

Nicolaus Copernicus baru berani mengemukakan pendapat ini di Eropa 500 tahun kemudian.  Buka Copernicus yang berjudul De Revolutionibus ternyata banyak mengadaptasi model langit dari Ibnu al-Syatir dan at-Tusi dari madzhab Maragha. 

Argumentasi Copernicus tentang rotasi bumi juga senada dengan karya Ali al-Qusyji. Pada abad-21 ini, fenomena langit seputar tata surya sudah bukan teori lagi, tetapi sudah menjadi fakta keras yang tidak dapat dibantah lagi.  Manusia berbagai bangsa sudah meluncurkan ribuan pesawat ruang angkasa dan satelit yang mengorbit bumi. 

Terakhir, tahun 2009 para astronom dan insinyur aeronautika Iran sudah berhasil membuat satelit dan meluncurkannya dengan roket yang dibuat sendiri tanpa pertolongan negara lain.  Semua hasil eksperimen ini terus membuktikan bahwa bumi memang berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari.

Anehnya, di abad ini pula, justru ada sejumlah orang yang ghirah Islamnya tinggi kembali meragukan pendapat bahwa bumi itu berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari. 
Mereka berpendapat, bumi itu diam, dan matahari, bulan dan seluruh bintang-bintang beredar mengelilingi bumi.  Mereka menganggap pendapat ini didukung Al-Qur’an (antara lain QS 35:41, dan QS 21:33).

Padahal kebenaran sebuah fenomena alam yang dapat diamati atau diukur sama sekali tidak memerlukan dalil kitab suci manapun. 

Rupanya para astronom seribu tahun yang lalu justru lebih jernih dalam memahami ayat Al-Qur’an sekaligus memahami fenomena alam.

Dengan itulah mereka dapat menjadikan astronomi sebagai modal untuk memuliakan Islam dan kaum muslim. 
Itu karena para astronom itu berangkat dari seorang muadzin!

Abu ar-Raihan al-Biruni menegaskan perbedaan antara astronomi dengan astrologi, sehingga menekankan pengamatan empiris yang akurat dan eksperimen untuk membuktikan kebenaran perhitungan astronomi.  Akurasi data itu juga membuat astrofisika dimulai.

Adalah Ja’far Muhammad bin Musa bin Syakir yang dari ribuan pengamatannya memastikan bahwa benda-benda langit mengalami hukum fisika yang sama seperti bumi.
 
Sedang Ibnu al-Haytsam, sang penemu fisika optika – yang menjadi dasar pembuatan lensa untuk teropong bintang - dari pengamatannya memastikan, bahwa apa yang hingga saat itu diyakini sebagai “lapisan-lapisan langit” ternyata bukanlah sesuatu yang padat, melainkan bahkan kurang rapat dibanding udara. 

Jadi kalau di Qur’an disebut “lapis langit pertama sampai ketujuh”, maka itu pasti terletak di alam ghaib yang tidak dapat diamati manusia.  Di situlah, ketika sains berakhir, dimulailah keimanan.

Via Haura 'Amra' Zhafira (Priscilla Auldrine)
1 year ago | 3 notes

DARI ATAS SATU TANAH TEMPAT KITA BERPIJAK

khaulahshafiyah:

By : Thufail Al Ghifari

Intro:
Sahabatku inilah ringkasan perasaan gundah yang pernah kau titipkan padaku. Secara langsung atau melalui surat dan email. Maaf, Thufail hanya bisa menjawab melalui syair sederhana lagu ini sekedar meyakinkan, bahwa Allah tidak akan pernah memberi cobaan diluar kemampuan hambanya. Yo! Tetap semangat!

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Pada setapak kehidupan ketika kau bersedih
Senandung cerita lirih hati yang tak bertepi
Pada dimensi sajak hari yang terlalu dingin
Ketika kesepian menjawab renta malam tanpa angin
Semilir hidup dan sebuah kalimat mungkin
Pada harapan ketika jiwa harus tetap berdiri
Membelai hidup yang tak memerlukan terima kasih
Maka, maafkanlah…
Hadapi hidup ini apa adanya
Hidupi hidup dengan iman dan kesabaran
Enyahkan kejenuhan hidupmu buanglah rasa cemas
Bersyukurlah seluas langit dan bumi
Tinggalkan kekosongan harimu dalam rencana esok pada kehidupan di hari yang lain
Tanyakan pada dirimu akan kesantunan yang selalu terabaikan

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Peliharalah, peliharalah senyummu agar tak menjadi palsu
Menikmati kesedihan dan menjadi tangguh
Menakhlukkan pedih menjadi peluru
Bernafas seperti batu, menjadi singa dalam kejayaan matahari
Menjaga malam bersama tamaknya ibadah para rahib rabbani
Mensyukuri semesta barsama para penjaga purnama
Menikahkan jiwa bersama dakwah
Mencumbu cinta didalam jihad
Bekali perjalanan bersama Allah dan RasulNya
Membalut hati tanpa retorika
Siapkah kau jika hari menjadi pedang dan kesempatan kedua tak lagi memilki sarang
Bertarung manjaga cinta dalam kesepian
Membunuh waktu dalam harapan
Karena lahir adalah untuk melihat kenyataan

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Pada lautan airmata kita belajar
Pada kepedihan yang mendidik kita tuk tak gentar
Bertahan menjadi akar, bersemi pada keteguhan yang mekar
Celakalah para humazah dan lumazah
Neraka serapah jelantah
Kebutuhan jiwa di alam barzakh
Menebar jejak misteri syafaat dan kesolehan
Pada saat setiap telusuri sahara jiwa dan keabadian
Didekat jasad syahid hamzah
Temukanlah ibroh bukit uhud dari profil mini musoiram
Begitulah sejarah menuntut kita tuk bangkit kembali
Meniti tangga hari walau berulang terjatuh bangkit dan kembali terjatuh
Berdiri dan optimislah!
Karena kita adalah pewaris Rasulullah diajarkan bersabar diantara lapisan batu penduduk Thaif

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Via Haura 'Amra' Zhafira (Priscilla Auldrine)
1 year ago | 1 note
khaulahshafiyah:

PENCARI JEJAKApa yg kau cari dari cerita hidup yg panjangdari sudut syair dunia yg pastikan hilangadakah estetika yg lebih bijak dr keteladananpengiris lukisan alam yg tak kunjung menyentuh hatimuingatlah itu..seperti sebatang kara dipadang pasir rabadzahdibalik sebuah keterbatasan kain kaffan yg sunyipada indah sketsa teduhnya sebuah kesolehanbegitulah abu dzar al ghifari menyemai cermin tentang keteduhanmaka maafkanlah segala kekhilafan muawiyahagar sudut pandang tak ciptakan noda ukhuwahberistigfarlah ditiap keping kenikmatan duniasemoga hari-hari mu penuh dengan kemuliaan ibadahbermunajatlah.. kesudut cerita abadi tentang ketakwaanada cerita menarik pada bingkai rekonsiliasi futu mekahmaka pergilah kebukit uhud & kenanglah sejarah itujawaban ketika hawa nafsu berada diatas keimananmumaka kemanakah pujangga zulfikar yg tak pernah gentarmenjaga jejak kesadaran tanpa paranoia seperti abu hanifahramuan hati keemasan ibnul qoyyim aljauziahkemurnian terompah kaki bilal disurgaterjagalah jejak-jejak kesolehanbisakah kita belajar utk bisa merasabukan hanya sekedar merasa bisadari waktu & ilmu koleksi tulang imam syafeimaka selamilah jejak hidupmu dlm kesabaranmerintis nurani kepahlawanan dlm esensi kesetiaankesatria-kesatria pewarna sejarah ttg harapanpenikmat aqidah dlm kekusuan amaliah ibadahmerapatkansetiap shaf dlm 5 waktu yg khusyutapi tragedy diperang mu’tah adalah fenomena& kholid membayar kesabaran itu diperang yarmukpembuktian dari sang saifulloh al maslulgenerasi awal pewaris sastra kebajikanyg membuka mata hati dgn tajammerangkai imajinasi ketepatan sebuah perjuanganseperti keteguhan pilihan hidup mush’ab bin umairyg teguhkan bendera islam diatas lapisan nyawa sang ibuseperti wejangan lama kezuhudan fudhail bin iyadhyg getarkan hati harun arrosyid utk mengertibagi utang jejak kita pd sang robbul izzatiatau pr ilmu kita terhadap kesolehanmaka lihatlah lebih dlm dgn mendengar& mengerti lebuh jauh dgn menyimakdisudut batas ketekunan & keteguhankarena hidup tak hanya selembar daun telinga..

khaulahshafiyah:

PENCARI JEJAK

Apa yg kau cari dari cerita hidup yg panjang
dari sudut syair dunia yg pastikan hilang
adakah estetika yg lebih bijak dr keteladanan
pengiris lukisan alam yg tak kunjung menyentuh hatimu
ingatlah itu..

seperti sebatang kara dipadang pasir rabadzah
dibalik sebuah keterbatasan kain kaffan yg sunyi
pada indah sketsa teduhnya sebuah kesolehan
begitulah abu dzar al ghifari menyemai cermin tentang keteduhan
maka maafkanlah segala kekhilafan muawiyah
agar sudut pandang tak ciptakan noda ukhuwah
beristigfarlah ditiap keping kenikmatan dunia
semoga hari-hari mu penuh dengan kemuliaan ibadah
bermunajatlah.. kesudut cerita abadi tentang ketakwaan
ada cerita menarik pada bingkai rekonsiliasi futu mekah
maka pergilah kebukit uhud & kenanglah sejarah itu
jawaban ketika hawa nafsu berada diatas keimananmu
maka kemanakah pujangga zulfikar yg tak pernah gentar
menjaga jejak kesadaran tanpa paranoia seperti abu hanifah
ramuan hati keemasan ibnul qoyyim aljauziah
kemurnian terompah kaki bilal disurga
terjagalah jejak-jejak kesolehan

bisakah kita belajar utk bisa merasa
bukan hanya sekedar merasa bisa
dari waktu & ilmu koleksi tulang imam syafei
maka selamilah jejak hidupmu dlm kesabaran
merintis nurani kepahlawanan dlm esensi kesetiaan
kesatria-kesatria pewarna sejarah ttg harapan
penikmat aqidah dlm kekusuan amaliah ibadah
merapatkansetiap shaf dlm 5 waktu yg khusyu
tapi tragedy diperang mu’tah adalah fenomena
& kholid membayar kesabaran itu diperang yarmuk
pembuktian dari sang saifulloh al maslul
generasi awal pewaris sastra kebajikan
yg membuka mata hati dgn tajam
merangkai imajinasi ketepatan sebuah perjuangan
seperti keteguhan pilihan hidup mush’ab bin umair
yg teguhkan bendera islam diatas lapisan nyawa sang ibu
seperti wejangan lama kezuhudan fudhail bin iyadh
yg getarkan hati harun arrosyid utk mengerti
bagi utang jejak kita pd sang robbul izzati
atau pr ilmu kita terhadap kesolehan
maka lihatlah lebih dlm dgn mendengar
& mengerti lebuh jauh dgn menyimak
disudut batas ketekunan & keteguhan
karena hidup tak hanya selembar daun telinga..

Via Haura 'Amra' Zhafira (Priscilla Auldrine)
1 year ago

Orang yang selalu menghadiri majlis ilmu dan hikmah ibarat seorang pemburu. Meski hari ini boleh jadi ia tiada mendapat apa-apa, esok hari bisa jadi ia menangkap buruannya.” [Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari]

- [Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari] 
Via ruh x soul